Kruba Chai Ya Patthaphi, Tahun BE 2561 / CE 2018. Wat Sathantham Duangkaew Sappanyu,Provinsi Chiangrai, Thailand.
Batch : Ayuyuen 2561 Pimyai
Pada umumnya amulet kwan im banyak ditemukan berbentuk mini liontin biasa akan tetapi kali ini dibuat oleh Kruba chai ya patthaphi dari provinsi chiangmai dengan desain yang sangat mendetail (3D) dan power yang bagus. Bahan amulet terbuat peleburan logam suci yang dilapisi silver. Bahan amulet terbuat peleburan logam suci yang dilapisi emas. Pada bagian depan amulet tampak Dewi kwan im duduk bersila diatas bunga teratai dikelilingi sepasang naga. Pose Dewi memegang botol air suci dan dengan mudra pada tangan kanan nya yang disebut Shuni Mudra melambangkan kesabaran. Mudra tangan ini menyatukan elemen api dan element lainnya, mewakili keberanian dan tanggung jawab. Konon Mudra ini diyakini orang sebagai media ampuh untuk healing (penyembuhan), membantu mengatasi depresi, kesedihan, masalah hubungan, penyakit. Sedangkan pada bagian belakang terdapat kode amulet dan yant suci pada bagian bawahnya. Versi amulet ini memiliki ukuran yang besar dan bentuk yang mendetail untuk siapapun baik pria maupun wanita dan anak-anak.
Seri Amulet ini disebut Phra kring Kwan Im Namo Chai ya / Kwan Im Healing. Pada bagian bawah amulet terdapat bola suci yang jika diguncangkan akan berbunyi kring. Sangat Jarang menemukan para master yang membuat amulet kwan im. Kruba Chai ya memiliki kekuatan yang mampu mengundang dewi kwan im untuk datang saat upacara blessing amulet. Kruba Chai ya patthaphi adalah murid dari Kruba Ariya chat dan sangat di hormati di chiangrai, thailand utara.
Guanyin / Kwan im dikenal sebagai Avalokitesvara Bodhisatva / Bodhisatva maha welas asih. "Avalokita" (Kwan/Guan/Kwan Si/Guan Shi) yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah (“Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (Sanskerta:lokita)). Kata "Isvara" (Im/Yin), berarti suara (suara jeritan mahluk atas penderitaan yang mereka alami). Kwan Im sebagai seorang Bodhisattva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Dewi Kwan Im yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatnya.
20 Ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im :
Kruba Chaiya Wat Dong Rong Kaew adalah salah satu biksu guru termuda di Chiang Mai yang baru berusia 29 tahun tahun ini. Kruba Chaiya lahir pada 15 Maret BE 2534. Pada usia 13 tahun, ia telah ditahbiskan sebagai samanera untuk mempraktikkan agama Buddha dan belajar sihir di bawah bimbingan Maha Supan adalah kepala biara Wat Hua Song dan kemudian ditahbiskan sebagai biksu pada usia 20 tahun. Pada usia 16, saat dia belajar agama Buddha dan sihir di bawah Maha Supan, dia berhasil bertemu dengan Kruba BoonChum.
Maha Supan sangat mendukung Kruba Chaiya untuk belajar di bawah bimbingan Kubra BoonChum karena dia tahu bahwa Kruba Chaiya memiliki bakat yang hebat. Oleh karena itu, Kruba BoonChum memutuskan untuk menerima Kruba Chaiya sebagai muridnya dan membimbing Kruba Chaiya dalam meditasi, Buddhisme, dan sihir. Setelah di bawah bimbingan Kruba BoonChum selama 2 tahun, Kruba Chaiya pergi ke Wat Nam Pew untuk mencari pengetahuan yang lebih dalam dan pada saat yang sama ada juga seorang guru biksu terkenal yang tinggal di Wat Nam Pew juga.
Biksu guru terkenal yang tinggal di Wat Nam Pew adalah kepala vihara. Dia adalah Kruba Indra yang merupakan salah satu dari beberapa guru-biksu ternama mahir dalam meditasi dan latihan sihir di Wilayah Utara Thailand. Kruba Indra berusia 101 tahun ketika dia melihat Kruba Chaiya dan setuju untuk menerima Kruba Chaiya sebagai salah satu muridnya. Kruba Chaiya mendapatkan nama penahbisannya dari Kruba Indra sebelum Kruba Indra meninggal dunia pada usia 102 tahun.
Pada saat Kruba Chaiya mencapai usia 20 tahun, ia ditahbiskan sebagai biksu di bawah Maha Supan dan diberi gelar Phra Chaiya Pataphi. Karena banyak kejadian ajaib yang ditemui para umat dari Kruba Chaiya, semakin banyak orang yang mencari berkah / blessingan dari Kruba Chaiya. Pada tahun BE 2555, seorang saudagar kaya yang merupakan pemuja Kruba Chaiya mendanakan sebidang tanah dan mengundang 108 biksu guru dari bagian utara Thailand untuk membangun sebuah kuil tempat Kruba Chaiya tinggal. Oleh karena itu, kuil tersebut diberi nama Wat Dong Rong Kaew .
Ada juga hal yang terjadi selama penahbisan Kruba Chaiya. Di Thailand udah menjadi tradisi lokal jika orang tua dari biksu tersebut akan selalu menyimpan rambut pertama anak mereka yang dicukur saat penabishan menjadi seorang biksu dan disimpan dalam wadah transparan untuk diletakkan di Altar. Ini sama halnya yang dilakukan oleh keluarga Kruba Chaiya. Saat ibunya menemukan bahwa rambut Kruba Chaiya saling menempel dan batu mengkristal dapat dilihat di sekitarnya. Setelah berita ini menyebar, para umat mulai berkumpul setiap kali Kruba Chaiya mencukur rambutnya untuk mengumpulkannya dan memasukkan rambutnya ke dalam tas kecil untuk disimpan di dalam dompet mereka. Banyak umat merasakan hal-hal positif dan ini menarik semakin banyak umat untuk berkumpul bersama ketika Kruba Chaiya mencukur rambutnya.
Fungsi dan khasiat :