LP. Maha Thum BE 2560, Wat Srivichai.
Bahan Utama (Daun Lontar/Bailan) 2 lembar, Penggunaan daun lontar (Bailan) memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat tinggi. Pada zaman kuno di Asia Tenggara, daun lontar digunakan khusus untuk menyalin kitab suci Buddha (Tripitaka) karena sifatnya yang tahan lama. Menggunakan lembaran bertuah ini sebagai media jimat melambangkan kesucian dan kekuatan teks suci.
Garis Guratan (Yantra/Rajah) dengan teks mantra pada setiap lembar daun (bolak-balik), Teks yang terukir di atas daun lontar tersebut merupakan tulisan aksara sakral (biasanya aksara Khom kuno atau Lanna). Setiap huruf diukir secara manual oleh Lp. Maha Thum menggunakan jarum logam khusus sembari merapalkan mantra konsentrasi penuh (Samadhi). Tulisan ini berisi formula perlindungan (Khatha) atau ringkasan doa formal.
Tali Pengikat (Sinjana): Terdapat seutas tali hitam tebal yang melilit bagian tengah daun. Tali ini dalam tradisi Buddhis Thailand disebut Sai Sin, yaitu tali suci yang mengikat energi berkah agar tetap bersemayam di dalam objek spiritual tersebut.
Terdapat Foto kecil yang tersemat menunjukkan sosok Lp. Maha Thum yang memimpin upacara pemberkatan (Blessing/Consecration). Beliau berasal dari Vihara Wat Sriwichai, tempat ritual pembacaan doa formal dilakukan bersama para biksu sangha lainnya.
Perjalanan Hidup dan Keistimewaan
• Sumpah Seumur Hidup: Beliau ditasbihkan sebagai biksu (Ordination) saat genap berusia 20-21 tahun. Di hadapan orang tuanya, beliau mengikrarkan sumpah sakral untuk mendedikasikan seluruh hidupnya pada jubah biksu (Saffron Robe) demi melestarikan ajaran Buddha tanpa pernah melepas jubahnya kembali (Baword hingga akhir hayat).
• Pakar Pendidikan & Akademisi Tinggi: Beliau menonjol dibandingkan biksu umumnya karena menguasai studi Dhamma secara mendalam, lulus tingkat tinggi Pali Pariyati Dharma (Pariyen 6). Menariknya, beliau juga menempuh pendidikan formal duniawi hingga meraih gelar Master (S2) dari Banaras Hindu University di India.
• Penguasa Bahasa Kuno (Wicha): Kombinasi kemampuan akademis dan ketajaman ingatannya membuat beliau dijuluki "Lemari Kitab Suci Berjalan". Beliau sangat fasih membaca, menulis, dan menguji naskah-naskah kuno seperti Aksara Khom (Kamboja Kuno), Aksara Lanna (Dharma), dan Aksara Tai Noi. Keahlian inilah yang membuat rajah buatannya di daun lontar (Bailan) dinilai sangat otentik dan bertenaga spiritual tinggi.
• Gaya Hidup Bersahaja (Smata): Meskipun namanya sangat besar dan jimatnya dicari hingga ke mancanegara (seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia), Luang Phu Maha Tump dikenal hidup dengan sangat sederhana, tenang, dan menjauhi kemewahan duniawi di viharanya.
Para pengikutnya percaya bahwa berkat ketekunannya dalam meditasi (Samadhi) dan pemahaman mendalam atas aksara suci kuno, berkah yang beliau salurkan ke dalam objek spiritual memiliki khasiat nyata untuk keselamatan hidup dan kelancaran usaha.